FEB BEKALI MAHASISWA AKUNTANSI AGAR TAK SALAH PILIH KONSENTRASI

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby


“Berbicara mengenai akuntansi, ada beberapa konsentrasi. Salah satunya adalah Akuntansi Sektor Publik. Konsentrasi ini relatif lahir akhir-akhir ini, sekitar 5 tahun terakhir. Dapat dikatakan konsentrasi ini berkembang setelah reformasi,” papar Muhammad Taufiq Hidayat, SE., MM. Menurutnya secara sederahana, Akuntansi Sektor Publik ini sama seperti konsentrasi akuntansi lain. Bedanya hanya pada lembaga yang menggunakan. “Sesuai namanya konsentrasi ini digunakan lembaga pemerintahan karena mereka memiliki standar keuangan sendiri untuk mengatur keuangan negara yang digunakan,” katanya.

Dijelaskan oleh Taufiq, bahwa pada Akuntansi Sektor Publik ini pertanggungjawaban dari mana dan untuk apa sumber dana dari organisasi sangat ditekankan. Dosen program studi Akuntansi ini menerangkan, “Dibutuhkan orang yang kompeten, jujur dan bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Karena obyek dalam Akuntansi Sektor Publik ini bukan profit-oriented tetapi social-oriented. Prospek kerja lulusan konsentrasi ini bisa di kantor PNS maupun Non-PNS. Meski demikian tidak menutup kemungkinan untuk keluar dan menyeberang ke sektor swasta.”

Pemaparan ini disampaikan oleh Taufiq dalam Kuliah Umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 (FEB UNTAG) Surabaya bertema ‘Akuntan Milenial di Era Revolusi 4.0’ pada Selasa, (24/9). Peserta adalah mahasiswa program studi Akuntansi lintas angkatan. Dengan moderator Dra. Hendy Widiastuti, MM., CMA., CPA. kuliah umum ini turut menghadirkan 2 dosen program studi Akuntansi lainnya yakni Dr. Ontot Murwato, MM., Ak., CA, CMA, CPA dan IBK Bayangkara, SE., MM.Ak., CA., CMA., CSRS., CSRA.

Dengan adanya kuliah umum ini, Dekan FEB UNTAG Surabaya-Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA. berharap mahasiswa program studi Akuntansi dapat menentukan konsentrasi sesuai dengan keinginan. Senada dengan tema kuliah umum, dalam sambutannya dia mengatakan, “Banyak pekerjaan dalam Akuntansi yang digantikan oleh teknologi informasi. Peluang para Akuntan pun tergeser, secara kuantitatif banyak yang digantikan oleh teknologi. Meski demikian tidak ada satupun teknologi yang bisa menggantikan metodologi dan teknis. Tak ada teknologi yang bisa membuat jurnal.”

Menyikapi Era Revolusi Industri 4.0 ini, Slamet berpesan, “Kita tidak perlu takut dengan perkembangan teknologi informasi. Tunjukkan bahwa kalian mampu dan mempunyai nilai jual yang lebih dan tidak bisa dikalahkan yang lain. Kita harus bersinergi dengan teknologi. Setidaknya teknologi bisa mendukung nilai lebih teman-teman. Agar bisa bersaing harus bisa berbahasa Inggris.” Dia menegaskan, “Kemampuan akuntansi sudah tidak bisa ditawar lagi. Teknologi bisa kita kendalikan. Akuntan milenial berada pada era milenial saat ini. Harus mensinergikan ilmu akuntansi dengan teknologi informasi.” (Um)

www.untag-sby.ac.id 

 

Komentar